Kota Yang Sama
Kota ini sedang dilanda hujan saat aku sedang berjuang
mempertaruhkan masa depanku. Tak ku pikir soal tangan yang biasa menggenggam
atau mata yang biasa menatap. Yang ku pikir, sanggupkah aku berjuang untuk
melawan ekspetasi agar bisa terealisasi. Aku impikan soal aku yang kerap dapat
kau banggakan nantinya seperti aku benar membanggakanmu. Aku tidak ingin
menjadi orang – orang seperti yang ada di masa lalu mu, sudah membuatmu terluka
dan maaf tapi ku pikir kau tak layak menangisi orang seperti itu. Namun aku
sadar soal hati yang tak bisa dipaksakan soal perkara jatuh hati. Aku memahami
soal kamu yang berhak memilih tambatan hatimu. Aku juga tak menyalahkan
bagaimana kisah hatimu dimasalalu. Namun aku tak mau kau terluka terus menerus
hingga saat ini. Tak ku pikir bagaimana pahit dan kelamnya kisah masalalu mu
bersamanya. Bagiku, aku hanya tak terima saat kamu bercerita tentangnya sampai
membuatmu terluka sampai saat ini.
Perjumpaan kita memang tak sedramatis tentang kamu
dengan dia, perjumpaan kita sangat sederhana. Namun bagiku, kau tak sesederhana
itu. Kau istimewa melebihi apapun yang digambarkan dari sekedar rangkaian kata.
Mungkin kau adalah senyawa atom yang dapat meledakan dimensiku namun jangan
dengan menghancurkan perasaanku. Aku hanya bisa berserah pada kisah saat aku
mulai mengenal dan diam – diam menyimpan perasaan kepadamu.
Aku tidak ingin pulang ke kota yang sama denganmu. Aku
tak mau menatap matamu terlalu lama dan terjebak dalam keheningan yang
mencekam. Aku tidak ingin terlalu sering bersamamu dalam keadaan lidah yang
kelu. Aku lebih suka berada jauh darimu, mencipta rindu, dan terus terpaku pada
layar ponsel mengarap kau berkata mengharap ku untuk segera kembali. Aku tak
bisa membeku duduk disebelahmu, aku lebih suka kita berjalan masing – masing
namun tetap saling berkirim pesan. Aku tak masalah begitu. Soal jarak tak
pernah menjadi hal yang memberatkan kala aku menyimpanmu dalam hati. Aku
percaya kamu dalam diam meski aku tak tahu kau akan berkeliaran dengan siapa
disana. Aku mengerti sepenuhnya bahwa itu adalah hakmu. Logikaku terus berjalan
meski membunuh hati, namun aku nikmati saja soal rindu karena jarak yang membentang
diantara kita.
Waktu memaksaku untuk pulang dan bertemu denganmu. Aku
tau ini akan menjadi perkara yang berat untuk ku jalani. Setiap saat harus
melihatmu, baik saat kau sedih karena yang menyakitimu ataupun saat kau bahagia
karena yang lainnya. Aku kerap kali memohon izin kepada Tuhan bahwa aku ingin
menyimpan perasaanku saja, menyimpanmu dalam hati, meski kerap kali tersakiti.
Kalau saja aku bisa bernegosiasi
dengan Tuhan, ingin aku bisa menghapus segala rasa luka dihatimu, dan bisa
menjadi alasan bahagiamu.
Komentar
Posting Komentar